Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2013

Dibawah Atap Rambat


Berkencan bersama kebosanan-mu
Bagaimanapun raut-mu, kau tetap terlihat cantik
Barangkali aku dapat meyanyikan lagu-lagu gembira
Lantaran dari sekuntum rasa, segala kekuranganmu bukanlah sebuah masalah
Kita kan selalu bangga dengan status remaja
Melahirkan senyum sebagai produk kita  
Pelbagai hambar mungkin karena terlalu sering mengalaminya
Kita orang kreatif bukan
Yang pandai membuat inovasi selepas gugup dari kontemplasi
Otak masih bisa berkhayal
Mimpi dapat disulap
Aku yakin Tuhan tak sejahat yang kita bayangkan






Rabu, 26 Desember 2012

Stasiun Purworejo

Sekarang menjadi puing di cagar budaya
Menjadi tak terawat tentu sebab akan rusak
Setelah menjadi bekas
Ketidakpedulian memberkati sirna









Senin, 10 Desember 2012

MAH......




“Shubuh ini begitu mengharu, budidaya maaf akan kembali menghempas di lebaran kali ini... Dan aku belum mampu memberikan apa-apa untukmu.... Wajibkah aku pulang kali ini? Atau seminggu lagi setelah jalanan agak renggang....? Yah..,Maa...”

“Aku lewati di getir perjalan pagi, dalam hitam asap solar dan bijih pasir yang menyapu wajah-ku.. Aku kebut lewati lampu merah penuh terabas....
Astaga.. Aku teringat senyum-mu bunda, empat tahun yang lalu, kala itu...”

“Beliau pelukis,penyair,guru,ustad,dan bapak rumah tangga yang bisa diandalkan...”
Aku kangen kamu pak...

“yang kemarin aku belikan minum dengan teman2 maaa, yang tadi aku belikan obat-obatan temani aku sendiri maa, dan esok tidak ada sisa yang bisa di belanjakan... Maaf ma, aku belum bisa membalas sms-mu, tapi aku akan segera di rumah, mama....”

“dimata bunda aku lihat banyak kekecewaan, tapi tolong coba kau lihat mataku bunda, dan tataplah ada banyak kuat harap tuk bahagiakanmu....”

“belajar untuk tidak berharap banyak di tanggal 1, karna ayah sudah pensiun dan mulai tua, semoga hari ini banyak appointment tattoo dan pesanan jarum...”

“2 do'a hari terakhir untuk ayah, lalu 2 keajaiban datang menjelang, lalu yang ke 3, semoga ......”

“salam buat ayah sama bunda... :)
aku disini bisa bertahan belajar menghidupi diri sendiri.”
10 January 2011 

Selasa, 27 November 2012

Solo lama, Solo baru




Bangunan tua adalah megah
Nostalgia umpama indah...
Bunga kemuning berjatuhanlah....
Di tanah-tanah yang basah...

lihatlah bangunan-bangunan yang kokoh...
Di sebelah kanan-nya apartemen yang katanya tahan roboh
nomor telepon sudah disiapkan anti cemooh...
 tempat hang-out baru akan menjadi berita heboh
 Dengan lampu terang,musik dj oh,oooohhhh

Aku lawan setiap alih
di kanal kanal tanpa penggalih
Alir air besuki memori yang tak bertitih
Sampah-macam sampah bertupang tindih

Nyamuklah penguasa yang teduh...
Modernisasi apakah bukan pengaruh?
Kopi-kopi jam pagi mulai di seduh
Pohon pohon tentunya tak akan pernah mengeluh
Angin selalu menyemangati pendekar sejati untuk menjadi tangguh
Jarang pantas jarang terdengar teriakan buruh
Rockstar dan show unit, akan menjadi acara ricuh
Gereja-ku tertutup papan sponsor-sponsor,uuuhhhhh

Solo lama... Aku aku di sela tilasmu..

Sabtu, 03 November 2012

CERITA KAMI , MAHASISWA YOGYAKARTA



Karena takdir telah tersebab, dari sebab apapun itu, kenyataan-kenyataan mungkin memang diawali dari mimpi, kita pernah terbayang-bayang tentang kota gudeg, daerah kepatihan, tempat berteduh, dengan nuansa lemah lembut, dan sapa ramah. Sejuk, nyaman, damai, aman, dan tentram. Kota ini memang dikenal seantero Nusantara, rindu-rindu pernah terselip disana, bagi siapapun yang pernah menapaki kakinya, fase-fase menjinjing dan memikul, bersama, berkarya dan berbudaya, tidak akan pernah habis, dan tidak akan pernah habis...wahai....kota kita Yogyakarta.

Kita pernah bertekenalan di kampus, saling berbincang di acara pameran, bertegur sapa di gang-gang, tempat wisata dan kost, mengenal cinta pada sapa komunitas, di butik, dan kedai kopi, pergelaran tari yang mengherankan antara aku dan kamu, disini kita memang diwajibkan untuk menuntut ilmu, kuliah, datang ke kampus duduk, dan membaca, mengerjakan tugas yang begitu luhur, karena  kita dikenal di kampung-kampung tempat lahir kita, bahwa kita adalah orang yang terpelajar. Memang sedemikian, Jogja adalah sebuah penghormatan dan kebanggaan. Setiap waktu dimanapun kita berada, di kota ini memang kita menemukan pendidikan secara langsung, setiap kabar berita ada di depan mata kita.

Aku tengok tahun-tahun kebelakang, hingga menepis ketidakpercayaan, bahwa memang semua sudah menjadi seperti ini, ternyata kita memang mahasiswa sibuk, mahasiswa yang sibuk dengan urusan diluar kampus. Rekamlah!! aktivitas satu jengkal langkah kita menuju ke barat, mereka kawan kita bermusik, mensyairkan lagu-lagu tentang keberadaan kita, tidak jauh untuk sebuah kritik, urusan logis-nya tentang kenyataan., Tangan-tangan bertepuk menyulap kita ke ruang pameran, astaga!!!! Keindahan hati manusia terlukis disini... satu lukisan sejuta cerita, menaungi ketulusan dan keajaiban. Dimana langkah beta akan mengalir, keringat-keringat dan ekspresi dalam koridor yang berisi darah dan salju, kita akan bersandiwara menjadi lakon dan musuh, sampai titik-titik DNA kita tersebar dalam pamplet-pamplet dan mural di tepian tembok kota, segala-galanya adalah keindahan yang luar biasa.

Waktu-waktu kita berdomisili dan tersebar. Lalu kita dipertemukan Tuhan, kita berkumkumpul bersama, berbincang-bincang tentang  cinta,  kita tertawa dan terharu, mengenang tahun-tahun awal di kota ini. Dan kita saling merenungi “ masih layak-kah kita disebut mahasiswa, dengan dengan wajah yang seperti ini?”

Namun, ini yang akan kami sampaikan keada orang tua, dan saudara-saudara di kampung, pembelajaran kami setiap hari, setiap yang yang di depan mata kita, materi-materi kita adalah keberadaan udara, kita juga mengalami pengenalan, kesibukan, kegoyahan, dan perenungan, untuk tetap belajar dan melanjutkan perjalanan hidup, mungkin nama mahasiswa kami akan berevolusi menjadi merek-merek kaos dan stempel album. Kami sangat merindukan ayah-bunda, membayangkan masa depan yang gemilang, dan menelusuri seluk beluk pemberitaan koran dan televisi. Kami selalu berusaha untuk membahagiakan. karena Yogyakarta-lah yang  turut serta berpengaruh terhadap pembentukan karakter kita.
Bukan tentang kesalahan, karena takdir telah tersebab. Terima kasih segala-gala-nya...... Yogyakarta.