Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta Tattoo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta Tattoo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Jogja Beauty Blast


At Jogja City Mall, 23-24 Juli 2014

Sebagian teman-teman dari komunitas tato di Jogja sengaja diundang oleh pihak panitia untuk turut serta berkontribusi dalam pergelaran bertajuk “Jogja Beauty Blast”. Pergelaran ini dikemas dalam kegiatan seni tata rias, fashion, seni mural, musik, tari, fotografi, kesenian tradisional, dan kesenian modern yang ditampilkan secara kreatif. Kegiatan ini terselenggara buah kerja PIC-COM Organizer, penyelenggara memandang “sebuah kecantikan mengandung arti begitu luas, kami bermaksud menampilkan keindahan tersebut dalam rangkuman sebuah acara, untuk itu kami mengajak para pihak penggiat kesenian dari berbagai bidang“

Para seniman Tato turut andil dalam dua konten di acara ini, yang pertama lomba mural dengan mengangkat tema keindahan kota jogja, yang kedua cloth painting, yaitu menggambar dengan memilih media berupa baju, kali ini dalam bentuk gaun putih, untuk gambar sepenuhnya dibebaskan sesuai buah kreatifitas seniman sendiri, yang tak lain karya yang tersaji mewakili bentuk keindahan. Untuk lomba mural dipilih 3 karya terbaik, yang jatuh kepada Benedictus Arioma sebagai Juara Pertama, Dimas Pesawart Kertas sebagai Juara Kedua, dan Dendra Tattoo sebagai Juara Ketiga. Kemudian hasil karya dari kegiatan cloth painting, gaun itu akan dikenakan oleh para model, dan diperagakan dalam fashion show. Yang utama, tentu berlangsung-nya beberapa lomba serta peragaan busana fashion show yang diikuti oleh modiste-modiste ternama di kota Yogyakarta. Fashion show yang juga dimeriahkan Erlita Wandani selaku Putri Indonesia Pariwisata DIY 2014.

Kecantikan dalam arti luas sama halnya dengan kesenian, sebagai upaya dalam membangun kemajuan tentu perlu didukung oleh berbagai pihak, tidak menutup kemungkinan antara bidang fashion dan seni tato. Melalui jogja beauty blast terbukti mereka telah melakukan sebuah kolaborasi, khususnya dalam menyajikan kecantikan itu sendiri. Akhirnya meledaklah! jadilah Jogja yang cantik. 

Cloth Painting

The Winner & Judge ( Oni Killcat & Huhum )




Selasa, 14 Oktober 2014

Cerita Tinta | Heru Tattoo | Jogjakarta

Photo : Rupa Bule

"Menapak kilas balik perjalanan tato di Yogyakarta, kita akan menemukan jejak para seniman tato, tertinggalah sebuah tilas kaki oleh seorang bernama Heru, akrap dengan sapaan Pak Heru atau Heru Tattoo"

Jika kita menarik linimasa 5 tahun-an, diawali dari 1991-1995, 1996-2000, 2000-2005, dan seterusnya, maka kita akan bertemu Pak Heru di garis 95, anggap saja generasi pertama, dengan begitu beliau telah berkiprah 19 tahun lama-nya. Bob Sick pernah bilang bahwa "butuh waktu minimal 10 tahun untuk melewati proses berkarya, itulah waktu yang harus di bayar untuk sebuah konsistensi". Jadi, Pak Heru adalah sosok yang sudah matang dalam dunia pertatoan, beliau layak untuk disebut senior, meskipun dalam praktik-nya dia enggan dihormati lantaran jam terbang, karya adalah yang utama. Whatever, buktinya sampai kini nama Pak Heru tetap eksis.

Pak Heru adalah sosok yang sederhana, terjaga di studio dengan mengenakan kaos oblong, sendal jepit, kerap kali malah tanpa alas kaki. Dia benar mewakili sosok seniman Jogja, gaya bicara santun, dan mudah mengucapkan rasa tidak enak (maaf). Disela jadwal padat-nya ia menyempatkan diri untuk mensupport rekan-rekan, misal ada yang minta di bantu dalam pameran, pergelaran musik, ataupun kegiatan kesenian lainnya.  Ringkasnya Pak Heru adalah sosok yang disegani dan dihormati.

Pak Heru dengan tulus mengaku bahwa dia tidak pandai berbicara, apalagi bikin cerita menarik, namun jika kita melontarkan suatu pertanyaan ia segera menjawab dengan ringkas dan berisi. Ada sedikit cerita dari beliau, ia mengaku semenjak tahun 1995 sampai sekarang ia menggais rejeki dari mentato, alasan dia mentato-pun simpel, ya hanya karena suka. Suatu hari jika kita menyempatkan waktu berbincang, justru Pak Heru jarang sekali membahas babagan kesenian, misalpun terlanjur dia hanya menyatakan rasa kagum terhadap karya seni teman-teman,  terdengar ucapnya "karya si x edan ya...mantap" tak pernah spesifik membahas teknis maupun estetika. Dulu sebelum era 2000, client tato-nya kebanyakan para preman, pecandu narkoba, orang-orang yang  sengaja merusak adat, tahun itu tato benar-benar tabu, kebanyakan orang ditato lantaran ingin terlihat lebih sangar, tato untuk menakut-nakuti orang. Pak Heru memang menato siapa saja yang ingin ditato, tak peduli siapa dan apa latar belakang mereka, beliau benar-benar suka dan hanya ingin terus mentato. Tumbuh dan besar dijalanan, khusus-nya sepanjang jalur malioboro, uniknya Pak Heru tak pernah membuka praktek tato di emperan malioboro, sejak dulu ia selalu mengerjakan tato dengan cara indoor ( dirumah ). Pengakuan berikut-nya, beliau hidup secara total dari tato, dari kerja tato untuk kebutuhan bersama sampai tato untuk menghidupi, misalkan dari mentato untuk rokok dan minum bersama, sampai menghidupi keluarga.

Meskipun tidak menonjol Pak Heru juga turut bagian dalam gerakan aktivis tato era itu, sebuah usaha membongkar stigma negatif. Kala itu di punggawai oleh rekan-rekan dari beragam kumpulan dengan berbagai cara, sebut saja Athonk yang memulai membuat club tato ( Java Tato Club ), Yustoni Voluntero bersama komunitas Taring Padi, kemudian Bob Sick, S Teddy D , Durga, Iwan Wijono, dan teman-teman lain dengan aktifitas seni rupa, sesekali dengan lapak merchandise, lalu dengan cara musik ada Digie Sigit bersama Teknoshit, juga tercatat band punk Black Boots yang  juga mengeluarkan lagu bertema tato. Disana Pak Heru turut membantu di banyak kesempatan, tentulah nama Heru Tato tak asing diantara sekawanan tadi. Bahkan kebanyakan para rekan aktivis rata-rata memiliki tato buah karya Pak Heru.

Pak Heru menjalin persahabatan dengan Madame Chincilla, Madame Chincilla adalah seorang berkebangsaan Amerika, dia adalah seniman, sejarawan, tokoh, tapi lebih di kenal sebagai penulis, buku-bukunya yang terkenal seperti ‘Electric Tattooing By Men’, ‘Electric Tattooing By Woman’, ‘Stewed, Screwed, & Tattooed’ dan masih banyak lagi. Keduanya saling berkorespondensi seputar aktifitas tato di jogja, dan sempat tertuang dalam karya tulis Madame.

Masih lagi kita dapat mengenal Pak Heru adalah seorang yang lihai dalam teknis mentato secara freehand, minat-nya adalah kustom design bertema Jawa. Beliau adalah adalah seniman tato dengan client yang paling variatif, dari anak muda bermacam scene, berumur beragam profesi, turis lokal hingga manca negara. @huhumYK


“Bagaimanapun, Pak heru tetaplah Pak Heru... sosok sederhana yang telah menapakkan jejak kaki dalam perjalanan tato di kota Yogyakarta.... barangkali inilah sejarah” 


* Artikel ini dimuat di majalah Magic Ink Tattoo Magazine Volume 43

Rabu, 19 Februari 2014

WIWID | ITHIKIWIIIR TAT2BOIS




Pria subur kelahiran Magelang ini akrap dengan panggilan ‘Wiwid’, dia salah satu pionir dari beberapa seniman tato jogja yang bisa di bilang kawakan, lebih tepatnya senior. Pengalaman mentato sudah ia mulai dari tahun 1997, memilih profesi sebagai seniman tato lantaran hobby-nya mengambar.


Ia belajar tato dengan otodidak, sudah cukup lama ia menekuni bidang tato, kadang tak selama-nya profesi selalu berjalan mulus, ia pernah melewati masa tahun-tahun sulit, minat tato yang masih sedikit, peralatan yang harus membuat sendiri. Beruntung sekarang dengan mudah mencari peralatan tato, dan minat masyarakat terhadap tato semakin banyak.

Saat ini ia telah menekuni dunia tato profesional, sebuah studio yang serius memperhatikan higienitas dan kualitas karya. Wiwid  menyukai semua style tato, dari gambar semacam realist (natural), old school (gambar lama), new school (gambar kartun,model baru), lettering (font tulisan), dan tentu custom tattoo (tattoo sesuai permintaan pelanggan), ia punya semboyan bahwa dia “selalu mengutamakan kepuasan client”,   tato memang menjadi mata pencahariannya, namun yang terpenting adalah hasil karyanya sesuai dengan apa yang di inginkan client.

Ia berdiri dengan brand sendiri yaitu “Ithikiwiiir tattoobois”, namun dalam kesempatan tertentu dia mengerjakan tato secara freelance untuk studio lain di seputaran Jogja. Ia punya keinginanan setiap hari bisa mentato, juga yang utama dari studionya ialah, studio terbebas dari berbagai macam obat-obatan terlarang (narkoba), dan perilaku kriminal. Semua ada aturan-nya, semua ada prosedurnya.  

Jika kalian tertarik untuk membuat tato, dan berminat dengan karya Wiwid kalian dapat membuat janji (appointment) terlebih dahulu, karena dia membatasi jumlah client dalam sehari, demi mempertahankan kualitas karya, jika dibutuhkan konseling terlebih dahulu kalian dapat mengunjunginya di workshop-nya di daerah sekitaran Selokan Mataram Yogyakarta.

Artwork












Workshop :
Cepit Baru, Gejayan, Yogyakarta
Phone :081227920123 / 081802620246
Email : ithikiwiirtat2bois@yahoo.com

Organization :

Award :
The Best Tribal Tattoo at Double Trouble Tattoo 2008
The Best 1  Black and Grey Tattoo  at Solo Skinart Exhibition 2012
The Best Black N Grey Tattoo Collaboration  at Kustomfest 2013

Minggu, 16 Februari 2014

Tattoo XT Square | XT Square, 20 Desember 2013



 


Kota  belum sepi, para pengkarya belum tidur, bisa di simak setelah Magic Ink punya gawe di Jogja dengan “Freaky Friday 13”, seminggu tepat masih di tempat yang sama yaitu komplek XT Square, hanya berbeda gedung, langsung di susul acara kembali. Kali ini yang punya gawe adalah museum “Trick-Eye De Mata” bekerja sama dengan Java Tato Club Indonesia, yang masih di naungi Pemkot Jogja. Acara ini merupakan serangkaian program kesenian, ada juga lomba lukis, foto, fashion show, dll, untuk kemudian sebagai puncaknya adalah peresmian museum Trick-Eye De Mata. 

Mengambil tema ‘batik’, diikuti oleh sekitar 15 peserta, Jogja sekitarnya, juga Surabaya dan Bali. Masih dengan seputaran dunia 3D, ada juga sebuah ‘Live Tattoo” mengambil tema 3D Tattoo, oleh Oktar Sipatiti dari Semarang. Acara berlangsung lancar, kesempatan tato kali ini setiap seniman di bebaskan berkreasi dengan motif batik, namun ternyata pada perjalanan-nya banyak peserta yang masih kesulitan untuk menafsirkan batik itu sendiri, banyak peserta mengambil ornamen, motif-motif di luar kategori batik.  Melalui diskusi perdebatan yang cukup alot oleh juri dari berbagai ahli bidang diantara-nya tattoo, senirupa, dan batik, akhir-nya Tattoo XT-mewa memilih 3 karya terbaik, dan berhasil di raih oleh :

The Best Batik Tattoo XT Square

Dengan berlangsungnya acara ini, terbuka jalan terang atas perhatian publik di luar sana, kegiatan ini ialah bukti perhatian Pemerintah atas kekayaan budaya Tato Indonesia dan sejumlah seniman tato profesional. Semoga akan menyusul lebih banyak kegiatan tato yang di tawarkan atas kerja sama lembaga maupun industri. Lebih dari itu ialah upaya menjaga denyut tato itu sendiri, dan pengakuan atas karya seniman yang telah terukir sejauh ini.